BNP2TKI (29/9) – Tingginya permintaan dunia akan tenaga kerja
profesional sektor kesehatan dari Indonesia harus disikapi serius, baik
oleh pemerintah maupun oleh para lembaga penyedia pendidikan dan
instansi terkait lainnya.
“Dunia meminta 4.035.484 orang perawat Indonesia dari pelbagai
kualifikasi untuk kebutuhan hingga 2015 mendatang,” ujar Direktur
Promosi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI) Dr Endang Sulistyaningsih, ketika memberikan materi
pada Rapat Koordinasi Potensi Tenaga Kerja Sektor Kesehatan BNP2TKI, di
Hotel Arjuna, Bandung, Rabu (29/9)
Menurut Endang, dari total permintaan 4 juta lebih perawat itu,
berasal dari Kawasan Asia Pasifik 225.484 orang, Australia dan New
Zealand 210.000 orang, Amerika dan Kanada 1.600.000 orang, Timur Tengah
400.000 orang, Eropa 600.000 orang, dan ASPASAF (Asia Pasifik dan
Afrika) 1.000.000 orang.
Dia menjelaskan, sebelum ini, sejak tahun 2008, BNP2TKI telah
menempatkan perawat dan pendamping lanjut usia (caregiver) ke negara
Jepang. Program penempatan dengan skema Government to Government (G to
G) itu telah berhasil menempatkan hampir 700 orang perawat dari
permintaan 1.000 perawat.
Soal skema penempatan, kata Endang, pemerintah juga mendorong penempatan perawat G to P (Pemerintah kepada Swasta).
Sementara itu Staf Khusus Dirjen Dikti Bidang Kedokteran dan
Kesehatan Kemendiknas Dr dr Arsitawati P Rahardjo mengingatkan
pengalaman Filipina yang terlalu gencar menempatkan perawat ke luar
negeranya, namun di dalam negerinya malah kekurangan perawat.
“Banyak perawat Indonesia yang baru lulus kini bekerja di Filipina.
Dan setelah memiliki pengalaman mereka di kirim ke negara maju,”
ujarnya.
Arsitawati menambahkan, pihaknya juga sedang mengembangkan system
online terkait penyiapan SDM Tenaga Kesehatan yang akan di link
(dihubungkan) dengan BNP2TKI. Tujuannya agar database personal para
siswa sekolah perawat bisa sejak dini dipergunakan sebagai pengembangan
SDM penempatan TKI Kesehatan ke luar negeri.
Menanggapi harapan peserta, Endang menegaskan Rakor Potensi Peluang
TKI Sektor Kesehatan ini akan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) guna
membahas masalah yang meliputi factor demand dan supply yang lebih rinci
untuk pembuatan database, soal sertifikasi kompetensi, skema pendanaan,
dan rencana strategis penempatan TKI ke luar negeri.
Senada dengan Arsitawati, Direktur Promosi BNP2TKI mengatakan
pihaknya tetap akan mengutamakan ketersediaan perawat untuk kebutuhan di
dalam negeri. Hal ini perlu dilakukan agar tidak terjadi kekosongan
kebutuhan di dalam negeri.
No comments:
Post a Comment