Kementerian tenaga kerja Jepang mulai melangkah lebih aktif lagi kini
menghadapi kekurangan tersebut. Antara lain dengan mengantisipasi
kedatangan tenaga kerja Indonesia (TKI) khususnya tenaga perawat dan
pekerja penopang lansia, karena sejak 11 Desember 2007, parlemen Jepang
telah mensahkan masuknya TKI tersebut sekitar 1.500 orang.
Dimulai dengan 200 perawat dan 300 PPL (Pekerja Penopang Lansia) yang
biasa disebut Care Workers diterima dengan hangat di Jepang sejak tahun
2008 dan tahun 2009. Saat ini sudah lebih dari 36 perawat Indonesia
memperoleh sertifikat nasional keperawatan Jepang.
Lalu apa ketentuan paling penting supaya bisa ke Jepang? Bagi perawat
tentu harus memiliki Sertifikat Perawat misalnya lulus dari Akademi
Perawat dan memiliki pengalaman sebagai perawat di rumah sakit atau
klinik di Indonesia.
Hal serupa berlaku bagi PPL, harus memiliki Sertifikat Kelulusan
sebagai PPL. Misalnya lulus Sekolah Kejuruan yang khusus menangani
perawatan bagi kalangan usia lanjut usia, serta pengalaman membantu
kalangan lanjut usia seperti pengalaman kerja di Rumah Jompo di
Indonesia.
Terpenting, semua ini hanya diatur oleh kementerian tenaga kerja
(naker) Indonesia. Tidak ada dan tidak mungkin perusahaan yang ada di
Indonesia mengirimkan langsung perawat ke Jepang, tanpa melalui
kementerian naker Indonesia. Visa Perawat untuk menjadi perawat di
Jepang hanya mungkin lewat pintu pengiriman kementerian naker Indonesia.
Dengan sertifikat dan pengalaman perawat tersebut, masih belum
menjamin sepenuhnya pekerjaan di Jepang. Penguasaan bahasa harus
dilakukan sejak dini. Sebuah lembaga bahasa Jepang di Indonesia juga
menyediakan program bagi perawat yang mau ke Jepang yaitu Pandan College. Selain mengajarkan bahasa Jepang juga mengajarkan tata krama, adat istiadat, budaya Jepang.
Tiga hal inilah kunci utama kita dapat ke Jepang untuk bekerja dengan
baik. Sertifikasi, pengalaman, dan penguasaan bahasa Jepang.
Di lain pihak pemerintah Indonesia melalui kementerian naker
diperkirakan juga akan menyeleksi ketat calon TKI, misalnya dari segi
fisik. Hal ini karena Jepang memiliki empat musim. Terutama musim dingin
merupakan musim yang mematikan, sangat dingin sehingga banyak yang
sakit atau bahkan meninggal di saat musim dingin di Jepang.
Kekurangan perawat di Jepang itulah sebagian akan diisi oleh TKI dari
Indonesia khususnya tenaga perawat Indonesia. Sementara orang Indonesia
sendiri yang dapat berbahasa Jepang saat ini hanya sekitar 90.000 orang
atau sekitar 0,036 persen dari populasi Indonesia. Terlalu sedikit.
Saat ini jumlah pekerja di Jepang sudah 67 juta jiwa dan akan terus
menurun menjadi hanya 10 juta jiwa pada tahun 2030. Hal ini karena
keluarga muda Jepang jarang yang memiliki keinginan untuk punya anak.
Keberadaan anak masih dianggap beban bagi keluarga di Jepang karena
biaya hidup yang tinggi. Jangan heran untuk merangsang semakin banyak
anak di beberapa propinsi di Jepang, misalnya di Oita perfektur,
menghadiahkan emas murni langsung kepada keluarga yang memiliki anak
lebih dari dua orang.
Perhatian Khusus TKI
Perhatian khusus Jepang kepada TKI karena citra manusia Indonesia
yang relatif lebih baik ketimbang manusia negara lain, khususnya yang
sama-sama dari Asia. Citra TKI adalah pekerja yang baik, rajin dan tidak
menuntut macam-macam kecuali kerja dengan rajin dan memperoleh upah
sesuai yang dikerjakannya. Lain dengan pekerja negara lain yang
seringkali meminta uang dulu barulah mau bekerja.
Dalam hal keagamaan, pemerintah Jepang kini mulai memperhatikan soal Islam karena masyarakat Indonesia mayoritas Islam.
Karena itu dalam kunjungan TKI ke Jepang, khususnya ke rumah sakit
atau panti jompo di Jepang, tempat penerima TKI tersebut diharuskan
Depnaker Jepang nantinya agar menyediakan ruangan khusus bagi TKI yang
mau shalat.
Demikian pula soal makanan akan menjauhkan atau memberikan perhatian
utama kepada hal-hal yang tidak halal seperti babi. Penerima TKI akan
selalu diingatkan terlebih dulu akan hal tersebut sehingga komunikasi
dan hubungan manusia yang lebih baik diharapkan dapat terjalin dengan
baik.
Memang Jepang penuh dengan perencanaan matang serta jangka panjang.
Apa pun yang akan terjadi di masa datang telah dipikirkan sejak dini
sehingga diharaplan tidak akan terjadi perselisihan atau ketegangan apa
pun di masa datang. Hal inilah seringkali kurang dipikirkan negara
non-Jepang sehingga muncul banyak dampak tidak baik pada akhirnya.
Misalnya banyak kita dengar adanya pemerkosaan TKI di Arab Saudi dan
sebagainya. Hal seperti inilah mungkin tidak akan terjadi di Jepang
karena semua sudah dipersiapkan matang dengan berbagai pemisahan lelaki
dan wanita nantinya di tempat kerja.
Kini bagi Indonesia hal ini adalah kesempatan baru yang sangat baik,
bekerja di negeri Sakura, tetapi juga sekaligus menjadi tanggungjawab
besar bagi kita semua agar dapat menjaga citra nama negara Indonesia
tetap baik di Jepang. Janganlah sampai kesempatan emas ini tercoreng
hanya gara-gara satu atau dua orang yang melakukan tindakan tidak
terpuji di Jepang. Untuk itu tentu pengenalan budaya Jepang sangat perlu
dipelajari bagi TKI yang memang serius ingin ke Jepang.
No comments:
Post a Comment